Joki

Standar

Pagi ini emak mematut diri serapi mungkin di depan cermin. Pakaian terbaiknya dia sudah setrika malam tadi. Tas cangkol satu-satunya sudah dia siapkan, isinya cuma bedak, sisir dan dompet lusuh pemberian almarhum bapak. Aku lupa isinya ada berapa rupiah, yang jelas sejak kemarin di dapur sudah tak ada makanan. Aku saja makan malam diberi tetangga sebelah rumah.

Emak menyuruhku mandi, memberikan pakaian terbaikku, kaos dan celana jins yang dibelikan emak pas lebaran kemarin. Rambutku disisir belah pinggir ala artis korea punya kakak yang menempel di belakang pintu kamar, aku tak bisa membaca namanya, susah deh.

“Emak hari ini kita mau kemana?,” tanyaku pada emak. Sejak pagi aku heran karena tak biasanya emak serapi ini, biasanya emak bakal sibuk di dapur merapikan kue dengan mata merah dan bengkak karena tak tidur semalaman. Biasanya emak mulai sibuk menguliti kentang dan wortel, merajangnya dan menumisnya untuk isi kue. Lalu dia akan menguleni adonan risol jam 2 pagi, membuat dadar dan menggorengnya. Keseluruhan proses baru selesai jam 6 pagi, persis ketika kakakku bersiap berangkat sekolah. Risol buatan emak dititipkan di kantin sekolah kakak, sebagian lain di warung-warung sekitar rumah. Kadang laku tandas, kadang sisa banyak.

Tapi aktivitas itu tak tampak sejak kemarin. Kurasa emak tak lagi punya modal, bahkan untuk beli makanan pun tak ada. Emak murung sejak kemarin. Tapi pagi ini perubahan besar nampak, emak cantik hari ini. Aku juga merasa tampan.

“Kita akan jalan-jalan dengan mobil mewah man,” kata emak sambil merapikan bajunya.

“Betul mak? Mobil siapa mak?,” aku berhenti mengagumi potongan rambutku di depan pecahan cermin di dinding kamar emak.

“Mobil siapa pun yang berhenti dan mengangkut kita. Hayuk berangkat,” kata emak menarik tanganku.

Masih banyak pertanyaan di otak mungilku. Tentang mobil siapa, mau pergi kemana, untuk tujuan apa. Tapi kadung dibetot tanganku oleh emak, pertanyaan itu menguap dari kepala.

Yang rapi pagi ini tak cuma kami ternyata, di ujung jalan gang ini ada rombongan ibu-ibu dan remaja yg juga berdandan bersih dan rapi. Aku pikir kami akan pergi tamasya sekampung, persis seperti kebiasaan warga seusai lebaran.

Ibu Rosmina tetangga berbeda dua RT dengan kami membisikan kalimat yang aku masih tak mengerti kemana arahnya. “Nanti hati-hati dengan satpol PP, awas kegebuk. Lu kudu hati-hati juga sama nyang punya mobil, awas diculik, lu pan cakeup.”

Emak cuma mengangguk. Emak cantik, aku sudah tau, semua tetangga mengakui itu. Emakku kembang kampung. Sejak bapak meninggal dua tahun lalu, emak beberapa kali kedatangan pria yang mau jadi bapakku. Emak menolak. Kata kakakku emak terlalu cinta sama bapak, jadi tidak mungkin dia menerima lelaki lain untuk jadi bapak kami berdua. Emak bekerja dua kali lebih berat sejak itu. Dua anak harus dihidupi dan bersekolah. Aku kelas 3SD dan kakak kelas 6SDN sebentar lagi dia akan ujian nasional, artinya emak harus kumpulkan uang lebih banyak supaya kakak bisa melanjutkan ke SMP.

Emak tak mau meminta bantuan nenekku yang kaya raya di Sumedang sana, apa lagi balik ke kampung. Kata emak, susah senang kami harus bersama tak boleh meminta-minta.

Kami semua naik metromini 49 menuju kawasan elit menteng. Turun di depan Taman Surapati lalu jalan kaki menelusuri trotoar sepanjang jl.Imam Bonjol. Setiap 100meter kami berpisah dengan anggota rombongan yang lain. Emak berhenti di depan kantor pusat salah satu partai. Aku duduk menghela napas. Kakiku perih. Emak merapikan pakaiannya dan mulai mengacungkan telunjuk kanannya.

Aku berdiri dan mengamati sekeliling. Ibu Rosmina juga melakukan hal sama, mengacungkan telunjuk kanannya, begitu juga dengan Mas Bayu tetanggaku yang berdiri berjarak 100 meter di sebelah kanan emak.

“Kepada siapakah emak mengajukan pertanyaan? Kepada mobil? Kepada angin? Tentang apa?,”

Mengacungkan telunjuk hanya terjadi di ruang kelas, ketika ibu guru bertanya dan kami sibuk mencuri perhatiannya untuk menjawab.

Mobil sedan putih berhenti, lelaki tua menurunkan kaca jendela,”Masuk.” Katanya singkat.

Aku mundur, emak menarik lenganku. “Hayo masuk,” kata emak sambil melotot dan membetotku.
“Ga mau mak, takut,” kataku hampir menangis. Aku sekuat tenaga menolak tarikan emak. Dia makin kencang dan melotot lebih lebar. Sekarang aku makin takut, emak tak pernah semarah itu padaku. Matanya tak lagi cantik. Tapi aku tak menyerah.

Mobil itu pun pergi lalu berhenti mengangkut Mas Bayu.

Emak menghempaskan lenganku, sakit. Aku mengurut lenganku dan mendengarkan Emak marah,”kamu harus masuk mobil Man, emak ini lagi kerja, lagi cari duit buat kamu dan Nisa. Kamu jangan nakal.”

Emak mengusap muka dengan jemarinya, seketika air mukanya kembali tenang. Bibir tipisnya ditarik kiri dan kanan, senyumnya tersungging kembali.

“Bantu emak ya Man,”katanya sambil kembali mengacungkan jari telunjuk.
“Kenapa emak ga bikin risol aja.” Kataku sambil memainkan dahan patah yg berserak di trotoar.
“Emak butuh modal Man. Kakakmu mau ujian, emak butuh uang lebih banyak. Risol emak tak cukup menutupi kebutuhan kita.” Kata emak. Suaranya bergetar tapi air mukanya tetap tenang. Aku tahu emak sedang bingung. “Lagian kita begini kan cuma sampe jam 9an, emak bisa lanjut jadi kuli cuci baju di rumahnya Bu Reno. Lumayan Man,” lanjut emak sambil melirik dan tersenyum padaku.

Tiba-tiba ibu Rosmina lari terpontang panting ke arah kami. “Lari Lis, petugas Lis larrriiiii…” Kata Bu Rosmina sambil melambaikan tangannya.

Emak ikutan lari sambil lagi-lagi menarik tanganku. Kaki kecilku berlari sekuat tenaga mengikuti langkah emak yang terus berlari tak kunjung arah. Di perempatan lampu merah depan Gereja emak menerobos lampu hijau, sepeda motor dari arah kiri emak sedang melaju kencang dan menabrak kami.

***
Aku berdiri di trotoar seberang kantor pusat sebuah partai di kawasan Menteng. Aku mengacungkan telunjuk kiri berharap mobil berhenti mengangkutku sampai ke arah yg tak lagi ada aturan 3in1. Penghasilan 30ribu perhari amat besar untuk anak seusiaku. Uangnya aku gunakan untuk pengobatan emak, urat tendon kaki kirinya putus. Emak tak bisa kemana-mana kecuali dengan tongkat.

Hari-hari tak lagi sama tanpa semangat emak yg setiap hari kian kendor. Sehabis menjadi joki, aku pergi sekolah, sore hari berjualan koran di perempatan jalan. Emak kembali membuat risol dibantu kakakku.

Tapi aku percaya pak suatu saat pasti ada hasil yang baik untuk kami. Bapak yang tenang ya di surga, aku akan jaga emak dan kakak…

******
Menteng, 19 Desember 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s